Slider 1 Slider 2

Arti Kata "Yahudi" yang Mesti Diketahui



Oleh: Tareq Albana. (Mahasiswa Al-Azhar University, Jurusan Hadits dan Ilmu Hadits)

Sebagai negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia, istilah Yahudi dan Bani Israil memang seharusnya tidak asing lagi bagi masyarakat kita, karena dua istilah ini sering disebutkan didalam Al-Quran dan di Hadits Rasulullah.

Istilah Yahudi pada zaman sekarang sangat identik dengan negara Israel dan juga Amerika Serikat, karena sebagian besar penganut agama Yahudi menetap di dua negara ini.

Menurut Wikipedia, pada tahun 2015, 43% orang Yahudi berada di Israel dan 43% di negeri Paman Sam lalu sisanya tersebar di beberapa negara. Israel adalah negara tempat berkumpul dan hidupnya jutaan Yahudi. Didalamnya terdapat kota Jerussalem yang menjadi pusat Israel sekaligus menjadi tanah suci bagi mereka.

Jerussalem merupakan kota suci bagi tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Tak heran, kota ini selalu menjadi perebutan oleh tiga agama ini. Umat Islam sempat menguasai kota Jerussalem di zaman kekhalifahan Umar bin Khatab dan juga ketika kekhalifahan Ayyubiyah.

Sedangkan Amerika Serikat, diyakini sebagai tempat orang-orang Yahudi menguasai ekonomi dan pemerintahan, agar kebijakan politik AS selalu mendukung dan menguntungkan Israel terutama dalam penjajahan Palestina, inilah pandangan umum orang Indonesia.

Tak heran, istilah Yahudi dan Israel pun menjadi sensitif, karena sebagian besar masyarakat kita tidak setuju dengan penjajahan Israel atas Palestina. Bahkan ada beberapa unjuk besar pernah terjadi di Indonesia untuk membela Palestina.

Itulah sekilas tentang Yahudi dan Israel yang sering dipahami oleh orang Indonesia. Namun pernahkah kita bertanya-tanya tentang makna kata Yahudi dan Bani Israil ini? Lalu kenapa dinamakan Yahudi? apa alasannya? serta banyak pertanyaan lainnya yang belum terjawab.

Sejarah Agama Yahudi

Yahudi adalah nama bagi pengikut nabi Musa, yang diutus oleh Allah SWT kepada kaum Bani Israil untuk menyelamatkan mereka dari kekejaman Firaun Mesir terhadap mereka, karena Bani Israil adalah kaum tertindas di Mesir ketika itu serta mengajak mereka untuk bertauhid kepada Allah.

Jadi Yahudi adalah nama agamanya, dan bani Israil adalah nama kaumnya, yang merupakan keturunan nabi Ya'qub AS.

Lalu setelah menyelamatkan Bani Israel dari kekejaman Firaun, dan firaun pada akhirnya mati tergulung ombak. Maka Allah memerintahkan Musa untuk mengajarkan dan menyeru Bani Israil agar bersaksi dan mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan yang layak disembah, serta mematuhi syariat dan ajaran yang diperintahkan oleh Allah kepada nabi Musa AS.

Bukannya patuh dan bersyukur, Bani Israil malah enggan dan membangkang atas seruan-seruan Nabi Musa. Padahal mereka telah melihat secara nyata bagaimana pertolongan Allah dan mukjizat nabi Musa yang telah mellenyapkan Firaun, namun masih keras kepala dan berusaha untuk mengolok-olok nabi Musa.

Apalagi kisah Nabi Musa dan Bani Israel adalah salah satu kisah yang paling banyak disebutkan didalam Al-Quran.

Nabi Musa adalah salah satu nabi yang paling banyak mendapatkan ujian, oleh karena itu ia memiliki gelar Ulul Azmi, sebuah gelar yang diberikan kepada 5 orang Nabi karena keteguhan hati mereka dalam menerima banyak ujian dan cobaan dari Allah melalui umatnya.

Itulah yang menjadi sebab kenapa Nabi Musa AS banyak disebutkan kisahnya oleh Al-Quran, agar umat Islam tahu bagaimana watak dan keras kepalanya orang Yahudi, sehingga berani membunuh nabi-nabi yang Allah utus sebelum Musa. Tidak hanya itu, ini juga memperlihatkan bagaimana azab dan hukuman yang Allah timpakan kepada orang-orang yang tidak patuh kepada Allah dan Rasulnya.

Yahudi adalah salah satu dari tiga agama samawi yang populer didunia, dua lainnya ialah Islam dan Kristen (Nashrani). Penganut agama Yahudi berkisar sekitar 14 hingga 15 juta orang, paling sedikit dibandingkan Islam dan Kristen.

Meskipun penganutnya paling sedikit diantara agama samawi lainnya, Yahudi adalah agama samawi yang tertua, jauh lebih tua sebelum Kristen dan Islam.

Menurut Prof. Dr. 'Audhullah Jaad Hijazi, seorang guru besar Akidah Filsafat Universitas Al-Azhar didalam bukunya yang berjudul "Muqoronatul Yahudiyyah wal Islam" menyebutkan bahwa keberadaan nabi Musa dan Bani Israil lebih tua 1300 tahun dibanding nabi Isa AS, apalagi jika dibandingkan dengan Nabi Muhammad yang turun hampir 7 abad setelah turunnya Nabi Isa.

Makna Kata Yahudi

Masuk ke pembahasan utama mengenai makna kata Yahudi dan Bani Israil, menurut Prof. 'Audhullah didalam bukunya menjelaskan bahwa  ada beberapa pendapat yang mendefinisikan makna kata Yahudi, dan yang pendapat yang kuat diantaranya:

Pendapat Pertama: Asal kata Yahudi (يهودية) berasal dari suku kata Arab, yaitu Haada-Yahuudu (هاد-يهود) yang artinya kembali dari kesesatan.

Alasan kenapa kata Haada-Yahuudu ini disematkan kepada agama kaum Bani Israil, karena mereka dulu pernah menyembah anak sapi ketika ditinggal oleh nabi Musa untuk bermunajat kepada Allah selama 40 hari. Tatkala nabi Musa kembali, ia melihat bani Israil sudah menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri, beliau pun marah dan berdoa kepada Allah meminta ampunan untuk Bani Israil dan memohon agar tidak diturunkan azab kepada kaumnya..

Doa tersebut diabadikan oleh Al-Quran didalam Surat Al-A'raf  ayat 156 yang artinya: Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau.(Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.

lafaz "Hudnaa"  didalam doa nabi Musa itu artinya: Kami Kembali (Bertobat) ( اِنَّا ہُدۡنَاۤ اِلَیۡکَ ) dan lafaz "Hudnaa"  itu berasal dari kata Haada-Yahuudu, sehingga kaum Bani Israil dinamakan dengan Yahudi karena kembalinya mereka menyembah Allah setelah sempat sesat dan menyekutukan-Nya.

Pendapat Kedua: Asal kata Yahudi berasal dari kata Yehudza (يهوذا) dan Yehudza ini adalah nama salah satu anak nabi Ya'qub Alaihissalam. Ia merupakan anak tertua, dan paling dekat dengan nabi Ya'qub diantara anak beliau lainnya, sehingga dinamakan "Yahudi" karena mereka berasal dari keturunan Yehudza.

Pendapat kedua inilah pendapat yang paling kuat bagi para peneliti sejarah Yahudi, sehingga menjadi referensi bagi para para guru maupun pakar sejarah.

Lalu bagaimana dengan Bani Israil? Apa maksudnya ? lalu apa hubungannya dengan Yahudi?

Makna Kata Bani Israil

Seperti yang telah saya singgung diatas, bahwa Yahudi adalah nama pengikut Nabi Musa yang diturunkan kepada Bani Israil. Arti dari Bani israil ini adalah "anak keturunan Israil", lalu siapakah Israil itu?

Israil adalah nama dan gelar yang diberikan Allah kepada Nabi Ya'qub AS dan ini termaktub didalam Al-Quran surat Maryam ayat 58 dan juga ada didalam Taurat, tepatnya pada Kitab Kejadian.

Israil berasal dari  bahasa Ibrani dan terdiri dari dua suku kata, pertama "Israa" yang berarti Hamba lalu yang kedua "iil" yang berarti Allah SWT. Maka Israil artinya (Hamba Allah) dan itu merupakan nama lain dari Nabi Ya'qub AS. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahwa bani Israel adalah anak cucu dari Nabi Ya'qub.

Didalam Al-Quran kita akan menemukan, bahwa pengikut Nabi Musa kadang disebut "Yahudi" dan terkadang disebut "Bani Israel", keduanya memiliki maksud yang sama. Jika disebut Bani Israil, maka itu dinisbahkan kepada kakek buyutnya (Nabi Ya'qub) dan jika disebut Yahudi, maka itu dinisbahkan kepada Yehudza, anak tertua Nabi Ya'qub.

Apakah Nabi Musa itu orang Yahudi?

Jika ada yang bertanya, apakah nabi Musa itu orang Yahudi atau tidak, maka jawabannya adalah Tidak, karena Nabi Musa bukanlah anak keturunan Yehudza, beliau adalah keturunan Lawi yang merupakan saudara kandung Yehudza dan mereka sama-sama anak Nabi Ya'qub.

Kesimpulannya, Nabi Musa adalah orang Bani Israil, namun ia bukan orang Yahudi.

Kenapa Allah Terkadang menyebut Pengikut nabi Musa dengan nama "Yahudi" dan Terkadang menyebut Mereka dengan nama "Bani Israel"?

Jika kita memperhatikan dengan seksama didalam Al-Quran, bahwa kisah pengikut nabi Musa ini disebut dengan istilah yang berbeda-beda oleh Allah SWT. di beberapa Ayat Allah sebut mereka dengan Istilah Yahudi, dan di beberapa ayat lainnya Allah sebut dengan istilah Bani Israil, apa rahasia dan hikmah dibalik perbedaan sebutan ini?

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. 'Audhullah bahwa Allah menyeru umat Nabi Musa dengan sebutan "Bani Israil" ketika menjelaskan nikmat yang telah diberikan dan ketika mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar dan mengesakan Allah.

Tidak hanya itu, Allah juga menyeru mereka dengan seruan ini ketika menceritakan kelebihan dan kasih sayang Allah kepada mereka dibandingkan umat-umat terdahulu.

Bisa dibilang, istilah Bani Israil ini adalah panggilan lembut dan kasih sayang dari Allah kepada umat Nabi Musa didalam Al-Quran.

Kebalikannya, Allah menyeru umat Nabi Musa dengan istilah "Yahudi" tatkala menceritakan kekufuran dan juga pengingkaran mereka kepada seruan Allah SWT serta menceritakan ancaman azab kepada mereka.

Sedangkan istilah Yahudi adalah panggilan Allah yang bernada ancaman dan keras kepada mereka.

Sebab kenapa Allah menyeru umat Nabi Musa dengan "Bani Israil" ketika mengajak umat Nabi Musa kepada jalan yang lurus dan hidayah, karena Allah seolah-olah ingin berkata kepada mereka "Kalian (Umat Nabi Musa) adalah anak Nabi Ya'qub dan berasal dari keturunan para nabi, maka  ikutilah jalan yang lurus sebagaimana yang diikuti oleh kakek kalian dan janganlah berpaling dari jalan yang lurus ini. Harusnya kalian adalah orang pertama yang beriman kepada para nabi, bukan malah menjadi orang pertama yang kafir kepada mereka (para Nabi)" 

Itulah sedikit banyak pembahasan seputar makna Yahudi dan bani Israel serta alasan-alasannya yang telah saya jabarkan dengan beberapa referens dari beberapa sumber kitab berbahasa Arab yang membahas tentang Yahudi dan Bani Israel. Semoga bisa menambah wawasan kita semua.

Share jika bermanfaat.



Artikel ini pernah tayang di Kompasiana.com



Catatan Rasa Dua Benua
Jejak 1:  Keberangkatan
by: Hzakiyya

’’Huft, 29!” Hayya bergumam, sudut matanya masih belum beranjak dari angka-angka balok yang menunjukkan 23.59  pada layar jam digital pintu kaca boarding room Doha’s Hamad International airport. Perempuan itu samar-samar menunggu jumlah detik yang tersisa sebelum angka di kaca digital di depannya mundur paradok ke deretan empat digit angka nol. Angka itu memang berubah mundur, tapi informasi waktu yang diusung tetap mengalir maju kearah integer tak terbatas, jauh di masa yang selalu bernama masa depan.  

’’Dan ya! ucapkan selamat tinggal pada 29 Hayya!” katannya lagi, berbicara pada hatinya sendiri.

Hmm haah, tarikan napas pertama di usia yang baru mengisi penuh lumbung alveolinya. ’’Aroma yang berbeda!” pikir Hayya, udara lembab bercampur keringat 12 jam yang lalu kini berubah kering, beku dan dingin. Wajah-wajah sawo matang dengan postur  tidak lebih dari 170 cm dalam jarak pandang sudah berganti Kaukasian. Sebagian berdialog dalam bahasa yang masih tertangkap telinga dan otomatis tercerna sensor-sensor pikirnya, tapi sebagian lain entah berbicara apa. Ya, pesawatnya baru saja mendarat, dan akan kembali mengajaknya membentangkan jarak dari negeri tempat rendang pertama berproduksi, ke titik berat eropa, titik pusaran bangsa-bangsa yang mendaulat diri sebagai negara-negara terbaik dunia, European Union.

Sedikitnya 6 jam lagi, roda pesawat akan menapak landasan pacu di negeri bekas jajahan Turki, tempat parliament terbesar ke tiga di dunia bermukim. Bangunan Neo-Gothic yang di perkirakan selesai pada awal abad ke 20 itu, memiliki luas 18.000 m2, 691 kamar dan 20 km panjang tangga jika digabungkan. Hungary, negara yang tidak pernah terpikirkan untuk ia jajaki kini harus ia tinggali hingga mungkin empat atau lima tahun kedepan. Kurikulum baru untuk mahasiswa doktoral mengharuskannya mengambil skema 2+2 alias 4 tahun dengan maksimum masa studi yang diperbolehkan adalah 5 tahun.

Pada penerbangan kedua ini, Hayya mengambil kursi tepat di sebelah jendela. Ya mengambil bukan mendapat, layanan check in online yang sudah berbaik hati mengijinkannya memilih kursi. Teringat satu hari sebelum keberangkatan Hayya beradu cepat dengan waktu dan signal provider yang kurang bersahabat berburu kursi pinggir jendela. Dan tadaa! Here we are, tepat disamping jendela pesawat penumpang yang akan mengantarnya ke kota berasitektur maha indah, Budapest. Dan di pesawat inilah Hayya akan menghabiskan setengah malam terakhirnya. Dikira ribuan bintang akan bertengger dijendelanya, ternyata tidak, hanya legam dan sesekali kerlipan cahaya pesawat lain yang melintas dari kejauhan yang singgah di retinanya.

00.45 begitu tertera di boarding pass yang ia kantongi, penanda pintu gate terbuka. ”Masih tersisa ¾ putaran jarum panjang lagi,” pikir Hayya, diamini sepasang kaki yang mulai melangkah berkeliling, kompak matanya menelanjangi satu demi satu duty free shops yang berjejer rapi disekitaran gates keberangkatan. Relativitas Einsten berlaku, memerangkap pergerakan Hayya, gemerlap toko-toko parfum mahal dan segala pernak pernik bermerk membuat waktu berputar cepat. Benar kiranya aliran ilusi yang bernama waktu bisa mengembang dan mengempis relatif terhadap rasa yang mengudara. Hayya terkejut saat melihat kembali jam tangan digitalnya yang sudah menunjukkan 01.02, sontak ia berlari ke arah gate keberangkatan. Pengeras suara mulai menyuarakan final call bagi para penumpang yang mungkin juga masih terpaku pada etalase-etalase kaca, salah satu nama yang disuarakan adalah ”Mrs. Nufus, Hayatun. Passangers of flight 372Z to Budapest...”

Belum sampai di bangku yang dijadwalkan menjadi miliknya hingga Budapest sana, seorang Kaukasian bertubuh gempal mendahului langkah Hayya. Laki-laki dengan tinggi sekitar 180 cm itu berwajah khas Eropa namun anehnya ia menggunakan turban dan gamis putih panjang serupa para penumpang Timur Tengah. Pergerakannya terburu, wajahnya panik memerah, agaknya namanya ada pada deretan nama di final call tadi. Sekonyong-konyong si Kaukasian menempati bangku yang seharusnya milik Hayya.
’’Excuse me, sir! This is my seat” Hayya meminta haknya, tapi si lawan bicara tak bereaksi. Hanya matanya menatap sejurus pada mahasiswa Indonesia itu sambil mengankat bahu dan kedua tangan setengah mengembang kearah yang berlawanan. Mungkin dialeknya yang masih Sumatera sekali membuat si bule tak mengerti, pikir Hayya.
’’My seat!” Hayya mengulang, kali ini sambil menunjukkan boarding pass.
’’Ouch, Bocsánat!” Jawab si Kaukasian sambil berdiri dari kursi dan memeriksa nomor kursinya. Ia pindah ke kursi tepat di sebelah milik Hayya. Tanpa senyum, beku dan dingin, ternyata bukan udara saja yang demikian, orangnyapun ikut mengadopsi musim rupanya.

Perjalanan tanpa percakapan, rasanya kering sekali. Tapi apa yang bisa diperpanjang dari percakapan berbahan dasar bahasa tubuh setelah lewat tengah malam. Ruang gerak terasa begitu sempit karena otot-otot mulai mengerut meminta jatah istirahat, belum lagi otak mulai bekerja lamban karena tak terbiasa bekerja dua kali lipat di jam ia terbiasa memikirkan mimpi.  Terlebih lagi, buku yang biasa bertengger di tas kecilnya sementara harus terusir demi kesesuaian berat bagasi. Pepatah arab tentang buku sebagai teman duduk yang paling baik benar rupanya dan kali ini Hayya kehilangan teman baiknya. Maka, tak ada jalan lain, selain memejamkan mata.

Sudah menjadi kebiasaan bagi perempuan muda itu membawa bahan bacaan saat berkendara dalam waktu panjang, bukan mobil tentunya. Menyadari ini, ia kembali merutuki keputusannya mengungsikan buku ke dalam koper. Sebut saja berkereta dari Surabaya ke Jakarta misal. Logam panjang berongga yang menggelindingkan rodanya pada rel itu ampuh meredam goncangan, membuat perjalanan terlalu rugi jika terlewat begitu saja. Hobi ini baru ia tekuni setelah kereta ekonomi AC Jakarta-Surabaya beroperasi, dimana penumpang tidak sepadat sebelumnya. Nyaman, adem dan tenang, begitu kesan yang didapat setelah kereta ini mulai merayap menyambungkan kota-kota di pulau jawa. Tapi sayangnya, transformasi kereta kelas ekonomi juga ikut mereduksi ruang komunikasi dan cerita, dulu ketika penumpang masih tidak terbatas, ruang oksigen dalam kereta yang sempit dan hawa panas berbau keringat membuat mata enggan terlelap. Entropi meningkat, keacakan berhadiah percakapan-percakapan tak biasa selalu saja menjadi cerita indah setelah turun dari pintu kereta. Hayya pernah mendapuk kereta ekonomi (bukan ber-AC) sebagai ladang syukur dengan pintu kereta sebagai musim panennya. Bagaimana tidak, setelah bercerita berbagai macam hal dengan orang dari berbagai latar belakang yang kebanyakan kaum marginal, kau akan di hadiahi rasa betapa beruntungnya hidupmu, beruntung yang teramat sangat ditambah udara segar di pintu kereta membuat panen syukur jadi berlipat-lipat.

’’Excuse me...” Suara pramugari yang lembut membuyarkan tidurnya, tapi baterainya yang masih low charge  membuat kesadarannya tidak mencapai 100%.
”hmm” Hayya hanya mengeluarkan lenguhan setengah sadar sambil mencoba menatap pramugari yang menyodorkan sesuatu. Oh, menu Rupanya.
”What would you like to have?!” begitu kata mba pramugari berhidung mancung dan bermata hijau zambrut itu pada Hayya. Agaknya ini sudah pertanyaan kesekian, hingga bibirnya yang seksi bak Angelina Joulie tidak lagi tersenyum.
”hmm” Hayya menunjuk menu beef tanpa berkata apa-apa. Itu untungnya naik maskapai timur tengah, kau tidak harus khawatir dengan kehalalan makanan yang ditawarkan, tapi untuk minuman tetap saja, hati-hati ada sebagian list yang merupakan alkohol kelas kakap.

Sesaat kemudian beef steak lengkap dengan appetizer dan dessert sudah tersedia di meja berukuran hemat menggantung di atas paha Hayya. Makan sesaat setelah bangun tidur bukan kronolog yang baik rupanya, lambung masih belum seratus persen mau bekerja, belum lagi bagi lidah, menu ini terbilang baru, bau parsley yang kuat terbang rendah di rongga-rongga sistem pernapasan, menciptakan kotak rasa baru yang masih butuh latihan frekuensi agar terbiasa. Ha, iya, Fregrance! pernah merasa bahwa terkadang bau-bau tertentu akan membawamu pada memori dimasa lalu, kemudian ada sensasi lain dari rasa yang membuatmu seolah-olah berada didimensi waktu dimana bau itu pertama singgah di indra penciumanmu, atau katakanlah bukan pertama tapi bekesan. Nah, kali ini parsley memiliki itenari perjalanan rasa yang membosankan, tak satupun loker masa lalu yang ia hadiakan setelah mengubek seluruh dokumen rasa yang ada dalam memori Hayya. Mungkin ini waktunya membuka ruang untuk memori yang baru.

”Budapest?” Si Kaukasian sebelah Hayya kembali angkat bicara
Yes, but then I need to continue to Miskolc” Kata Hayya sambil berusaha tersenyum
”hmm, hmm” kata si Kaukasian yang masih belum diketahui namanya, adalah hukum alam jika reaksi hanya akan timbul karena aksi, kita harus berterima kasih pada Newton rupanya, karena hukumnya tak saja berlaku di dunia Fisika.
”Hayya” kata ku sambil menyodorkan tangan. Si Kaukasian menyambut tanganku, tapi masih terdiam ”My Name!” kataku lagi sambil menunjuk diri sendiri.
”Oooh” Katanya panjang ”Ahmad” tambahnya. Hayya memiringkan kepala tidak percaya. ”Moeslim” katanya lagi, menegaskan, menangkap keraguan Hayya. ”speak arabic?” Ahmad bertanya, ya Kaukasian di sebelah saya ini sedari tadi berbicara dengan bahasa yang sama sekali asing, dan dari awal saya menebak kalau dia mungkin Hungarian.
”Laa, laa astathii’” jawab Hayya setelah menguras sisa-sisa memori pelajaran Bahasa Arab di madrasah dulu. Ia sama sekali tidak yakin dengan apa yang baru saja ia lontarkan.
”Tahadatsti!” kata si Kaukasian sambil mengembangkan senyum, rupanya sepatah kata dalam makna yang saling dimengerti membuat iklim bertetangga berubah hangat. Si Kaukasisan mulai cerewet mencampur bahasa Inggris, Arab dan satu bahasa lagi yang tidak sedikitpun dimengerti Hayya, lagi-lagi sepertinya itu Hungarian. Entahlah, mungkin saja begitu.

Sedikit yang Hayya tangkap dari percakapan multi-bahasa dengan si Kaukasian sebelum kantuk menguasai. Rupanya, tubuh yang (hanya) 180 cm itu adalah warisan kakeknya yang merupakan veteran tentara Rusia (Soviet pada masanya) yang jatuh cinta pada perawat Hongaria keturunan Turki. Slovakia camp disebut sebagai tempat pertemuan keduanya, tempat dimana pada masanya laki-laki usia kerja Hongaria dipekerjakan paksa oleh tentara Soviet untuk membangun Slovekia. Tetapi cinta memiliki perangnya sendiri, tidak peduli semurka apa satu negara pada negara lainnya, tetap saja cinta pemenangnya. Maka tahun 1946 menjadi saksi seorang tentara Rusia berislam dan memperistri seorang gadis Hungarian keturunan Turki di Slovekia. Sayangnya sang tentara terbunuh sebelum sempat menggendong anak pertamanya, Nemeth Duscha Medvedev, ibu Ahmad.

Ahmad lahir dan besar di keluarga Katolik ayahnya yang asli Hongaria. Namun memutuskan berislam sesaat setelah menjadi mahasiswa dan mulai mempelajari bahasa arab dari seorang imam di salah satu mesjid di Budapest. Menurutnya bahasa arab adalah kebutuhan dasar untuk bisa berislam secara sempurna. Bahkan manuskrip-manukrip tua di perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa, menurut Ahmad masi banyak yang berbahasa arab. Hayya malu, bahkan dirinya yang berislam sejak lahir dan dikelilingi lingkungan yang boleh dikatakan islami selama lebih dari seperempat abad, belum menguasai bahasa yang menjadi induk segala bahasa dunia itu. Lebih parah lagi, seorang Hayya yang mengakui Al-Quran sebagai pedoman hidup, bahkan tidak punya 5% kosakata Bahasa Arab di kepala. Lantas masih pantaskah, ia pongah dengan keislamannya.
Dari Ahmad, Hayya jadi tau bahwa di Hongaria bahkan pada makanan yang tidak berbahan dasar szertes (babi)pun kita sebagai muslim tetap harus bertanya, adakah minyak yang digunakan minyak nabati atau justru lemak hewani karena lumrah bagi orang Hongaria mencampur minyak goreng dengan lemak hewan, terutama babi. ”Only, if you strick to the Halal food” tambahnya. Ahmadpun mengurai nama-nama toko penyedia daging (termasuk daging ayam) halal di sekitaraan Budapest, namun ia belum bisa memastikan apakah toko-toko tadi ada di kota tujuan Hayya, Miskolc. Jika tidak, perempuan itu akan dihadiahi perjalanan enam jam pulang pergi jika ingin menyetok makanan halal. Ahmad menyarankan untuk segera mencari masjid di kota tujuan, karena biasanya imam masjid menyediakan daging halal.

Setelah berkomunikasi dengan berbagai bahasa termasuk bahasa tubuh, keduanya mulai merasakan kelelahan akibat otak yang bekerja rodi menterjemahkan bahasa menjadi yang dapat dimengerti.  Dua jam menuju Budapest sudah berlalu, menyisakan dua jam berikutnya yang dipaksa tunduk pada kantuk yang menggantung di pelupuk mata. Tidak ada yang istimewa pada sisa perjalanan yang dihabiskan dengan mata terpejam, kecuali hati yang terus bertanya-tanya tentang banyak hal bahkan tentang bagasi yang penuh bumbu dapur khas Indonesia.

”Hayya! Landing on progress!” kata Ahmad pada Hayya yang masih setengah sadar. ”Ahlan..” katanya lagi di sambung kosakata yang tidak tertangkap telinga Hayya. Mungkin sebenarnya terdengar, tapi karena loker memorinya belum tersedia, kata-kata itu mental tak tau rimba, mungkin. ”Phone number!” kata si Kaukasian lagi sambil menyodorkan kertas berisi nomor telepon genggam berawalan +36. Hayya yang masih mengantuk merespon lambat, namun tetap berhasil memasukkan kertas kecil itu, acak kedalam salah satu barang bawaannya. Keduanyapun berpisah setelah pesawat mendarat sempurna.
”Mrs Nufus Hayatun, passanger of Qatar airlines 372Z from Doha. Can you please open your lugages?!” kata seorang petugas imigrasi bandara sesaat setelah urusan imigrasi rampung. Rasa tidak nyaman mulai menjalari sensor-sensor panik Hayya. Namun pasrah, dibukanya juga barang-barang bawaannya.


bersambung........

Orang Minang dan Surau



Orang Minang dan Surau
Oleh
Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Kehidupan orang Minang dalam kesehariannya dapat disederhanakan ke dalam tiga “au”, yakni dangau, surau dan lapau. Dangau secara harfiah merupakan tempat mengaso para petani. Istilah ini dapat menyimbolkan aktivitas pekerjaan. Sementara surau, merupakan tempat kegiatan keagamaan, pertanda religiusitas orang Minang. Adapun lapau (kedai, warung) merupakan tempat bersosialisasi baik hanya sekedar nongkrong minum kopi maupun bermain domino dan koa (kartu ceki).  
Istilah kedua, surau, menjadi perhatian para ahli yang menulis tentang Minangkabau. Sejarawan Christine Dobbin dalam bukunya Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784 - 1847 menyatakan bahwa di pedesaan Minangkabau surau memegang peranan penting. Di sana para lelaki yang sudah puber tinggal, menjauh dari rumah keluarganya yang ditempati terutama oleh wanita dan anak - anak.
Dobbin kemudian menghubungkan surau dengan biara Budha yang didirikan oleh Maharaja Adityawarman tahun 1356 M di Bukit Gombak. Di biara ini para pemuda belajar pengetahuan suci mengenai beragam persoalan sosial dan solusinya.
Ahli lain R.A Kern dalam artikel ilmiahnya The Origin of the Malay Surau mencatat kata pasuroan (suro). Yakni tempat beribadah orang Batak kuno yang berlokasi di daerah tinggi. Menurutnya, kata suro pada etnis Batak sama dengan istilah surau orang Minang. Hanya saja karena yang terakhir beragama Islam surau menjadi seperti masjid namun tidak digunakan untuk shalat Jum’at.
Terkait relasi peristilahan serta konteks yang terikat dengannya lalu dia berkesimpulan bahwa surau sebetulnya tempat ibadah lama yang berpindah dan digunakan oleh agama baru. Kern menambahkan bahwa surau sebagai tempat keagamaan juga digunakan di semenanjung Malaya, termasuk Patani (sekarang masuk teritorial Thailand).
Tidak banyak informasi mengenai aktivitas surau di masa pra Islam. Kecuali bahwa bangunan tersebut dan yang serupa dengannya merupakan tempat pemujaan para dewa dan penghormatan terhadap nenek moyang dalam tradisi pagan.
Surau pada perjalanannya mengalami proses Islamisasi. Hal ini terjadi seiring meluasnya pengaruh Islam di Minangkabau hingga melahirkan falsafah adat basyandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Setiap orang Minangkabau adalah muslim. Apabila orang Minangkabau berkonversi ke agama lain maka dia dikenakan pepatah dibuang sepanjang adat. Artinya, secara kultural dia sudah tidak diterima sebagai orang Minangkabau lagi.
Sebagai institusi pendidikan Islam, surau menurut keterangan Dobbin, setidaknya hadir semenjak kedatangan tarekat sufi. Mereka fokus pada pembinaan batin serta adaptif terhadap kultur Minangkabau kala itu. Penerimaan masyarakat membuat mereka akhirnya mampu mengoperasikan surau besar (surau gadang).
Surau gadang diorganisasikan sedemikian rupa supaya dapat menampung banyak murid. Bahkan ada surau yang mempunyai 20 bangunan. Setiap bangunan mempunyai seorang guru dan dihuni oleh murid yang datang dari tempat berbeda. Untuk menghidupi diri, para murid ini  menolong gurunya di kebun dan sawah. Adakalanya mereka juga berjualan kecil - kecilan. 
Dobbin mencatat secara lebih rinci dunia surau. Permulaan aktivitas belajar setiap murid adalah mengaji dalam arti bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Setelah itu mereka belajar ilmu fiqh dengan kitab Minhaj ath - Thalibin. Kitab ini menjadi standar dalam pengajaran seluruh surau tarekat sufi di Minangkabau.
Terdapat beberapa tempat yang terkenal dengan suraunya di masa silam. Sebagian surau dari tarekat Naqshabandiyah di abad ke - 18 adalah Surau Taram, Surang Cangkiang dan Surau Talawi.
Adapun surau tarekat Syattariyah yang populer di luar Ulakan di antaranya adalah Surau Kamang, Surau Koto Gadang dan Surau Koto Tuo. Menariknya, di surau tarekat Syattariyah ini ada semacam spesialisasi disiplin ilmu. Misalnya disiplin Bahasa Arab di Kamang, Mantik di Koto Gadang dan Tafsir di Koto Tuo.
Arti surau dalam kehidupan Muslim Minangkabau secara tradisional sangat signifikan. Khususnya bagi laki – laki, mereka mulai belajar di surau semenjak belia. Jeffrey Hadler merekam pengalaman sastrawan Indonesia klasik Nur Sutan Iskandar dalam bukunya Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam dan Kolonialisme di Minangkabau.
Iskandar kecil diserahkan orang tuanya untuk dididik di surau sebelum berusia enam tahun. Ayahnya meminta guru di surau untuk mengajarinya Al - Qur’an. Dimulainya pendidikan Iskandar kecil pada institusi surau ini disertai dengan paket cambuk dari lidi kelapa untuk mengajarinya apabila nakal.
Hadler juga mencatat pengalaman lainnya mengenai rutinitas anak terkait surau. Setelah sekolah pagi mereka akan bermain lalu makan malam di rumah ibu masing – masing. Setelah magrib mereka akan ke surau lalu belajar Al – Qur’an hingga waktu shalat Isya.
Anak – anak di surau juga mengajak pria menikah untuk bermalam disurau supaya dapat menceritakan dunia orang dewasa. Orang pulang merantau pun menjadi “guru” anak - anak itu. Mereka akan mendengarkan cerita tentang tempat asing darinya.


Notulensi Seminar Online Beasiswa S1 IPMI

#1 Beasiswa S1 di Maroko
pdf

#2 Kuliah S1 di Singapore
pdf

#3 Kuliah ke Turki dengan Jalur Mandiri
pdf

#4 Kupas Tuntas Beasiswa YTB
pdf

#5 Kuliah S1 di Jerman
pdf

#6 Serba-serbi kuliah di Negeri Piramida
pdf

#7 Erasmus Mundus Exchange Student Program
pdf

#8 Tips and Trick Kuliah di IIUM (Malaysia)
pdf

Ranting tak Berdaun

Berkali-kali ku rangkai alasan untuk tertarik, tangkai-tangkai cokelat itu semakin tampak antik. Meski tak punya bunga ataupun secerah objek lain, tetap saja pohon-pohon berguguran itu selalu menyita perhatianku. Setiap menapak di jalan berbeda, rupa pohon yang sama memancarkan kecantikan tak menjemukan. Daun rontok dan batang keringnya tak patut dijadikan alibi kenapa mataku selalu terpaku pada mereka.
            Semerbak harum melati tak pernah berhasil menyeretku berpikir sedalam ini. Mawar dengan kesempurnaan wibawa durinya juga baru bisa menempati urutan kedua sebagai filosofi favoritku. Ranting tak bedaun. Tungkai-tungkai pohon gundul berdiri kokoh meski ditinggal dedaunan hijau. Tak satupun yang ia salahkan, entah hujaman hujan yang memperlemah genggaman atau waktu yang menggiring musim gugur, si dalang dari kepergian daun-daun. Tetap mempesona di tengah ketidakpunyaan, daya pikat yang tak dapat dimiliki oleh siapa yang berpunya. Mungkin itu boleh dijadikan landasan kesukaanku. Aku juga yakin tak hanya aku yang pernah jatuh hati dengan alasan sesederhana ini.
     Dia tetap dan selalu cantik, di kelilingi siapapun atau tumbuh dimana pun. Tanah tandus tetap menguatkan karakter coklat manisnya, ditemani oleh bunga-bunga berwarna terang juga tak memudarkan pesona klasiknya. Daun yang akan pergi juga tak sembarang meninggalkan, ia warnai tubuhnya dengan warna hijau-merah pertanda perpisahan akan semakin dekat. Ia juga tak jahat, tak serta-merta rontok hingga meluapkan kesepian si pohon. Demi menjaga perasaan si batang tempat ia bergantung, ia jatuh diam-diam dalam sunyi.
 Dia masih disana, tak berpindah ataupun mencoba mati untuk menyusul daun. Setia bersama perpindahan masa yang akan membawanya pada musim semi, si baik hati yang akan mempertemukan mereka untuk saling melepas haru dan rindu agar kembali menyemaikan kolaborasi keteduhan. 
Setongkat ranting, bermacam makna tersirat padanya. Tak perlu bermulut agar orang tahu seberapa tegarnya ia, tetapi tak semua orang pula yang dapat merasakan kekuatan hatinya. Dia tetap saja berdiam dan bertahan, percaya pada ketidaksia-siaan melapangkan hati. Senantiasa mengepakkan ketabahan, agar sekujur dirinya sekata untuk menerima dan bersiap menghadapi resiko kehidupan.
Hati memang tak pernah mampu menghentikan detik, bahkan mengembalikan momen-momen terlewat. Pemilik hati yang bijak setidaknya dapat mengendalikan segenap sisa harapan di dada. Ranting tak berdaun telah membuktikannya. Ditinggal daun pun ia tak bersedih, ia bahkan tetap saling berdamai dan semakin akrab dengan musim gugur. Orang-orang selalu menanti dan menikmati persahabatan ranggasan pohon dengan terpaan angin, karena secantik apapun salju dikata takkan pernah memukaukan pohon dengan segala kegundulannya.
Lantas mengapa kita tak dapat meniru si batang tak berdaun? Ia merasakan sepi, penatnya penantian, hingga harus melawan perih perpisahan ditambah dengan kuatnya angin berhembus. Tetap bertahan dengan satu itikad, harus bertemu dengan daun meski harus merasakan dinginnya salju menghinggapi luka kesepian. Kita tak harus berdiri kedinginan sepanjang malam menunggu takdir, mengapa tak sabar menanti? Menjemput mimpi terwujud pun juga masih bisa diselingi beragam cara menyenangkan, mengapa kita masih enggan menyambung asa yang merenggang?
Terima kasih batang tak berdaun, kau berhasil mengejutkanku dari kelalaian penyebab kufur nikmat ini. 


Nadhira Asiyah Arrin 




Dimanakah Kita?






Ini bukanlah tulisan pertamaku, melainkan tulisan yang kebeberapa namun tak pernah jadi satupun. Tulisan ini saya tulis tidak baku karena saya ingin mengajak pembaca bersantai dan menikmati setiap gambaran serta narasi-narasi indah yang akan saya paparkan in syaa Allah. Dalam pelajaran sejarah ada yang dinamakan sejarah sebagai objek wisata. Kenapa?????
Sebentar,saya ingin mengajak anda membayangkan pulau Bali, ombaknya nan begitu elok, pantai yang ramai dikunjungi oleh turis-turis asing, anda duduk ditepian pantai sembari menikmati sepoinya angin laut, hidangan makan dan minumanpun hadir dihadapan anda..
Dan kembali ke cerita awal,apakah anda sudah pernah ke Bali?? Belum, tapi saat saya cerita seolah-olah anda kala itu berada di Bali bukan?? Nah itulah yang dinamakan sejarah sebagai objek wisata..
Uuppzzz kita ngk belajar sejarah loh sekarang, hanya memperkenalkan atau menambah ma'lumat sebelum kita masuk kedalam pokok pembahasan.karena nanti dlm pembahasan, saya ingin mengajak pembaca masuk ke dunia itu, berharap saat tulisan usai dn pembaca kembali kedunia nyata setidaknya ada sedikit rasa ingin berbagi dan cinta sesama...

Pernah mendengar kata mentawai???
Bagi yang sudah pernah dengar alhamdulillah, bagi yang belum,maka saya yang akan memperkenalkan. Mentawai adalah kepulauan yang mempunyai luas 6.011,35 km2,dan panjang garis pantai 1.402,66 km yang terletak diantara 10-30 Ls dan 980-1000 BT.
Meski kepulauan mentawai masuk dalam wilayah sumatera barat, tapi banyak yang belum mengenal bahkan belum pernah mendengar sekalipun. Dahulu pulau mentawai adalah bagian dari kabupaten padang pariaman, dn sekarang telah berdiri sendiri menjadi kabupaten kepulauan mentawai.
Uniknya meski dinamai dengan kabupaten tapi sangat berbeda dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Kenapa??? Karena dia terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang berjumlah 99 pulau yang dikelilingi oleh lautan hindia (samudera hindia).
Secara umum kabupaten kepulauan mentawai terdiri dari 4 pulau besar yang letaknya terbentang dari utara ke selatan,yaitu pulai siberut, pulau sipora, pagai utara, pagai selatan.

Bagi saya,membaca letak geografis sebuah daerah itu adalah hal yang sangat membosankan apalagi menghafalkannya.
oleh karena itu,waktu sma saya tidak suka jurusan ips. Karena sepertinya ipa lebih menantang nyali menguras otak, meski nyatanya saya sampai sekarang ngk pintar2,biasa ajha...
Hahahahah...

Eh kenapa jd curhat sayanya??? 😄
Kembali ke laptop yok,.
Ini adalah cara saya ngilangin boringnya pembaca...



Setelah mengetahui 4 pulau besar di kepukauan mentawai, maka saya ingin memberitahu letak geografis rumah saya juga.. Hahahaa
Ngk penting banget??
Eh siapa bilang ngk penting,? PENTING..! Saya tinggal di tepian teluk pagai utara dan pagai selatan. Dari kecil hingga sekarang saya suka melakukan petualangan atau dikenal kids zaman now adalah adventure..
Karena setiap perjalanan yang kita lakukan terdapat banyak ilmu atau pengalaman-pengalaman yang kadang memang tidak akan didapatkan oleh anak rumahan. Yang sangat sangat ingin saya paparkan adalah bagaimana seorang bocah kecil berusia 6 tahunan harus dilepaskan oleh orang tuanya dari rumah menuju pusat kecamatan dan tinggal di kos kosan berupa kelas usang yang sudah tak layak pakai lantaran transportasi dari pulau ke kecamatan masih menggunakan boat berupa angkutan laut dan itu sangat tidak memungkinkan untk mereka sebrangi setiap hari.sangat jauh dan bahan bakar minyak tentunya sangat tidak memadai.
Saya begitu prihatin kepada anak anak di usia mereka yang masih harus diberikan asupan makanan bergizi serta kasih sayang dan perhatian lebih,malah terlontar di daerah orang.tapi tak apa, demi pendidikan dan masa depan
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الحنة.

Dan lagi sebuah cerita saat saya mengunjungi sebuah pulau yang saaaaangaat jauh, 7 jam lamanya di atas boat, hingga kecium bau gosong dari pipi ini saking panasnya.begitu saya sampai, yang terbayang difikiran adalah ketemu air dan perumahan penduduk.
Ternyata itu hanya hayalan semata. Untuk mencapai tempat pemukiman warga saya harus berjalan kaki senelusuri bukit dan lembah sejauh 2 km, nan tidak ada motor apalgi mobil. Beberapa jam kemudian sampailah saya kegaris finish,ingin mandi melepas dahaga membuang lelah.ternyata di daerah itu jangankan air PAM, sumur ajha ngk ada.. 😭
Kemudian saya bertanya kepada seorng bapak-bapak,

"jak, kudduat purauket senek kaipa jak? ".
(pak, tempat mandi disini kira - kira dima ya?)
Lalu sang bapak menjawab, lurus, belok kanan sekitar 200 meter, trus ketemu ladang talas nah disitu ad kayu, maka sebrangilah lumpur menggunakan kayu itu, nah kemudian di sana ada sungai, udah itu ajha..
Oke pak, makasih...
"belok kanan belok kiri meniti kayu bapak bilang itu ajha?? Omel saya ".
Maka bergegaslah saya beserta beberapa orang kawan cewe menuju sungai yang tlah di sebut sang bapak.
Tau-taunya ketika sampai termenggu aku jadinya,ibarat kata orang minang "tabek ketek ruponyo, jangankan untuak baranang, mancilaman kapalo se ndk masuak do".hahhahaha

Keesokan harinya, saat terik matahari membakar,seolah-olah saya kala itu berada di dalam film laskar pelangi, bocah-bicah kecil berlarian di bawah teriknya matahari tanpa alas kaki..
Cobalah sesekali bertanya menggunakan bahasa indonesia,maka mereka akan menjawab menggunakan bahasa daerah mereka. Karena tak faham bahasa satu sama lain akhirnya komunikasi terganggu dan dakwah pun harus menggunakan bahasa mereka..
Begitu terbelakang, hingga seorang ustd asal bandung berusaha keras belajar bahasa mentawai demi dakwahnya, bahkan karena daerah itu sulit di jangkau hampir smua masyarakat muslim disitu belum melakukan khitanan,hingga mereka beranjak tua umur mereka berkisar 40 tahunan...



Nah, inilah mengapa saya mengambil judul dari tulisan saya "dimana kita??".
Saat kita enak-enaknya menikmati masa kecil, ada mereka yang berjuang mati-matian untuk pendidikan..
Saat kita bisa menyicip segala jenis makanan enak, ada mereka yang hanya memakan pisang, keladi dan sagu..
Saat kita enak2 shopping di mall, ada mereka yang menanti pemberian baju-baju bekas dari kita..

Sebenarnya saya tidak mengatakan hidup miskin itu di bawah, karena saya juga berasal dari keluarga sederhana. Taukah kawan-kawan, hidup miskin itu adalah nikmat besar yang mungkin jarang didapat oleh orang kaya. Kenapa begitu??? Karena setiap peluh yang jatuh, air mata yang membasahi pipi demi memperjuangkan sebuah impian itu adalah cara kita membeli ni'mat nya Allah yang mana ni'mat itu tidak di jual untuk orang yang memiliki harta banyak, karena kesuksesan melalui sejuta pengorbanan itu ni'mat terbesar...
Maka bersyukurlah dengan keadaan kita sekarang, kaya Alhamdulillah karena dengannya kita bisa beramal lebih banyak, miskin pun Alhamdulillah karena disana terdapat ni'mat yang besar, tapi kalau bisa, marilah sama-sama untuk menjadi kaya. Kaya hati, kaya iman dan kaya harta....





Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh


Eka Fitria, Mahasiswi Universitas Al-Azhar Kairo,  Mesir
Copyright © 2013 Ikatan Pelajar Minang Internasional and Blogger Themes.