Hakikat Kuliah di Luar Negeri

        

Dewasa ini kuliah di luar negeri sudah menjadi tren tersendiri di kalangan pelajar  mahasiswa Indonesia , mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliah di kampus level dunia , dengan fasilitas lengkap dan kurikulum kelas internasional serta  menjalin relasi dengan masyarakat dunia merupakan dambaan hampir setiap mahasiswa.
         Berkuliah di luar negeri menyimpan banyak sisi positif yang sangat bermanfaat, serta hal hal baru yang hanya bisa ditemukan di luar negeri , dan juga sisi kehidupan lainya  yang hanya bisa di rasakan oleh mereka mereka yang pernah mengenyam pendidikan di luar sana.
      Data kementerian pendidikan Indonesia menyebutkan jumlah pelajar Indonesia di luar negeri terus meningkat setiap tahunya, ini menunjukan indikasi besarnya animo dan semangat pelajar Indonesia tuk menempuh studi di luar negeri yang didukung dengan semakin banyaknya jalur jalur beasiswa yang dapat menghantarkan impian mereka menjadi kenyataan, mereka pergi membawa asa dan harapan yang berbeda beda dengan motivasi diri yang beraneka ragam.
     Namun dibalik itu semua, ada beberapa paradigma dan motivasi yang menyimpang akan hakikat  berkuliah di luar negeri yang sebenarnya, mereka mengira studi di luar negeri merupakan sesuatu yang sangat menyenangnkan, apalagi kuliah sambal jalan jalan di sudut sudut kota cantik nan eksotis ala eropa dengan pamandangan yang indah serta tatanan kota yang begitu rapi ala amerika, mereka semakin bersemangat saat melihat postingan foto para senior  di sosial media yang menampakan keindahan kota dari berbagai sudut belahan bumi yang berbeda beda , atau ada juga yang bermotivasi untuk merasakan betapa  nikmatnya salju saat musim dingin dan bunga bunga tulip yang bermekaran di musim semi sambil melihat keindahan ciptaan Tuhan berbentuk gadis eropa bermata biru muda.
        Sebagian lagi ada yang lebih mengedapankan motivasi akan gengsi dan prestise , mereka yakin jika mereka berhasil berkuliah di kampus bertaraf internasional di luar negeri lulus dapat menaikan pamor mereka di tengah masyarakat, teman temanya akan beranggapan bahwasanya dia adalah mahasiswa cerdas dan memiliki skill dan kemampuan di atas rata rata, semakin di segani oleh orang orang di sekitarnya dan semakin mudah mendapatka  pekerjaan di masa depan.
       Namun pernah kah kita sedikit menelusuri lebih jauh lagi bahwasanya ekpektasi dan hayalan hayalan di atas tidaklah selalu berbanding lurus dengan realita di lapangan, perlu di ketahui bahwasanya kehidupan mahasiswa di luar negeri tidaklah seindah postingan di instagram, ada banyak cerita pahit yang harus mereka rasakan dengan  lika liku kehidupan luar negeri yang penuh keringat dan air mata.
     Ada banyak ujian yang harus kamu taklukan jika berkuliah di luar negeri khusunya eropa dan amerika, ujian ujian yang bisa menghapus bayangin indah akan nikmatnya kuliah di negara nan cantik kotanya, tantangan yang menguras emosi dan air mata yang harus di iringi dengan kesabaran dan ketegaran jiwa.  
           sebagian kecil di antara ujian tersebut adalah perihal makanan. Jika kita sudah memijakan kaki di luar negeri maka katakan selamat tinggal pada lontong gulai sebagai sarapanmu dan nasi padang sebagai makan siangmu , di luar sana kamu akan selalu bertemu dengan menu roti, kentang dan makanan khas negara tersebut yang pastinya sangat berbeda jauh dengan Indonesia, bulan bulan awal merupakan masa yang paling sulit bagi lidah untuk berdaptasi dengan cita rasa makanan ala luar negeri, dan satu lagi kamu akan kesulitan menemukan nasi yang selalu menemani hari mu di Indonesia. Itu baru dari segi menu dan cita rasa, bagi kita seorang muslim yang studi di daratan eropa atau di negeri non muslim lainya  juga tidak bisa sembarangan membeli makanan, harus meneletiti apakah makanan tersebut halal atau haram, sebagai seorang remaja muslim yang hidup di tengah masyarakat yang mayoritas Bergama non muslim harus tetap memegang teguh komitmen agama kita akan kehalalan makanan yang kita makan.
     Beranjak dari makanan, selanjutnya ujian  yang sering dihadapi mahasiswa internasional adalah culture shock , yaitu perasaan tidak nyaman dan resah akan budaya dan kebiasaan di negara baru, jika hal ini tidak disikapi dengan baik bisa menimbulkan depresi akut, merasa kesepian, cepat emosi,tidak nyama dan homesick. Bayangkan saja jika dirimu baru saja mendarat di negara yang baru, kamu tak mengerti bahasa masyakarat setempat dan mereka pun  juga tak mengerti bahasa inggris atau bahasa arab, kita bertanya alamat saat tersesat mereka tak faham, kita ingin membeli sesuatu  mereka pun tak faham dengan bahasa kita, mereka menyuruh kita mengerjakan sesuatu namun kita pun juga tak faham, kondisi kondisi seperti ini tentu sangat menyulitkan dan membuat kita stress. Contoh kecil lain yang bisa mengusik kenyamanan mahasiswa baru disana  adalah kebiasaan masyakarat yang berbicara dengan nada tinggi walau lawan bicaranya berada tepat di sampingnya, atau merokoknya perempuan perempuan di sana yang di anggap wajar dan tidak tabu, atau kebiasaan masyarakat yang bertanya tanya hal hal yang bersifat privasi kepada orang asing yang sangat membuat kita tidak nyaman serta pola kehodupan muda mudi negara eropa yang sangat bertentangan dengan budaya timur. Ini sesuatu yang sulit namun harus di hadapi oleh semua mahasiswa internasional yang baru merasakan kehidupan di wilayah yang baru.
     Dalam kehidupan kampus pun ujian dan masalah jauh lebih besar, apalagi kuliah menggunakan bahasa yang belum kita mengerti dan kita dengar sebelumnya, seperti sistem perkuliahan di kampus kampus mayoritas di Turki dan Jerman yang mewajibkan seluruh mahasiswa asing untuk menggunakan Bahasa nasional mereka sebagai bahasa pengantar perkuliahan, tentunya menggunakan bahasa asli mereka sebagai bahasa pengantar dalam perkuliahan bukanlah hal yang gampang dan sangat  menguras air mata dan keringat. Tahun pertama kita akan di beri pembekalan bahasa yang hanya cukup untuk komunikasi sehari hari , kemudian masuk semester dengan modal bahasa yang sangat minim lalu di hadapkan dengan materi perkuliahan yang berat dengan menggunakan bahasa yang masih terbata bata , semester semester awal akan terasa sangat berat, belum lagi kadang harus berhadapan dengan dosen yang tidak peduli dengan mahasiswa asing dengan keterbatasan bahasa yang dimilikinya bahkan sampai tidak suka dengan mahasiswa asing di dalam kelasnya, tentu hal ini sangat menyakitkan, namun itulah kondisi yang sesunggahnya , harus ditaklukan dengan kerja keras dan kegigihan yang di iringi dengan kesabaran.
       Kesabaran dan keteguhan jiwa kita kembali di uji  dengan kasus sara yang banyak terjadi di dunia barat, terkhusus kita seorang muslim harus lebih berhati hati lagi dengan isu islampohobia yang berkembang di tengah masyarakat dunia terlebih pasca insiden 11 september 2001, rasa takut dan kebencian terhadap islam serta  praktek driskiminasi pada semua muslim yang semakin marak terjadi membuat sejumlah mahasiswa muslim disana merasa tersudutkan, terlebih para muslimah yang menggunakan hijab, mereka sering diperlukan tidak baik dengan di langgar hak mereka seperti dipaksa membuka jilbab saat pengambilan sesi foto di kampus, atau pengasingan dari ativitas sosial serta kata kata kasar dan cacian kepada mereka yang mengatakan mereka adalah teroris yang  kehadiranya tidak diharapkan di tengah tengah mereka.
         Sebenarnya masih banyak lagi lagi hal hal cerita cerita pahit mahasiswa Indonesia di luar sana, namun tidak bisa di jabarkan semuanya karena akan terlalu panjang bila harus di tuliskan satu persatu, tapi pada intiya adalah berkuliah di luar negeri tidaklah seindah apa yang selama ini terlukis di pikiran kita, kuliah diluar negeri bukan hanya sebatas jalan jalan di tempat nan cantik, bukan hanya sekedar kuliah di kampus level internasional, bukan hanya sekedar adu gengsi dan kehebatan.
       namun hakikat berkuliah di luar negeri sebenarnya ialah engkau pergi meninggalkan tanah air mu, belajar  dan menyerap ilmu sebanyak banyaknya kemudian pulang denganya untuk megajarkan dan mengaplikasikan ilmu tersebut untuk kemajuan bangsa dan negara ini, tiru dan pelajarilah bagaimana disiplinya orang jepang, gigihlah kamu dalam bekerja sebagaimana gigihnya orang jerman, dan cintailah bangsa dan negara ini sebagaimana orang turki mencintai negara mereka. Jika setiap mahasiswa yang mengembara di luar sana memilivi visi dan misi yang sama untuk memajukan kehidupan bangsa ini, untuk mengangkat kembali martabat dan harga diri bangsa ini yang di dukung dengan sokongan dari pemerintah, maka tentu saja kita bisa bangkit dari keterpurukan ini dan membuktika pada dunia bahwa kita bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa abal abal, kita adalah bangsa yang besar yang menyimpan semua potensi untuk bangkit.
     Dan kepada seluruh jiwa muda yang membara, pergilah kamu dari kampung halaman mu, luruskan kembali niat mu, satukan misi dan visi mu, dan jika telah datang masanya, kembali lah ke negeri mu karena negeri ini butuh akan karya besar mu. 

By : Muhammad Mughni

About the author

Admin
Selamat membaca !

0 komentar:

Copyright © 2013 Ikatan Pelajar Minang Internasional and Blogger Themes.