Rumah Adalah Tempat Hati Berada




Di penghujung bulan Desember 2015, aku berlibur ke Indonesia untuk menghabiskan liburan musim dingin yang berlangsung sebulan lamanya. Di liburan kali ini, aku menyempatkan diri untuk berlibur ke kampung halamanku di Sumatera Barat.

Ketika aku menginjakkan kaki kembali ke tanah Minangkabau yang telah sekian lama tidak aku kunjungi, aku merasa ada yang berbeda. Aku merasa lebih nyaman. Perasaan ketidakpastian yang aku rasakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan liburan-liburan yang sebelumnya.

Belum lama setelah aku sampai di Minangkabau International Airport, aku langsung mendapatkan kabar duka bahwa saudara perempuannya kakekku baru saja meninggal dunia. Mendapati kabar itu, aku langsung pulang ke kampungku yang berada di Guguak VIII Koto, Kabupaten Lima Puluh Kota bersama saudara perempuan kakekku yang lain dan suaminya yang juga kebetulan menaiki pesawat yang sama denganku.

Setelah menempuh perjalanan dengan mobil travel selama sekitar 6 jam, kami sampai juga di Guguak VIII Koto. Hari sudah nyaris berganti ketika kami sampai disana. Belum lama setelah aku sampai disana, tanteku mengajakku untuk pergi ke Pekanbaru untuk menjenguk adik nenekku yang sedang sakit. Akhirnya, aku bersama keluarganya tanteku pergi kesana. Setelah menghabiskan waktu selama tiga hari di Pekanbaru, kami kembali ke Padang.

Aku meminta kepada pamanku untuk pulang ke Padang melewati Batusangkar karena aku ingin mengunjungi Istana Pagaruyung yang belum pernah aku kunjungi. Aku sendiri belum pernah mengunjungi Kabupaten Tanah Datar sebelumnya dikarenakan jika aku pulang kampung ke Guguak selalu melewati Bukittinggi. Selama perjalanan di Tanah Datar menuju Batusangkar, aku melihat banyak pemandangan alam yang indah yang membuatku semakin merasa dekat dengan Ranah Minang. Walaupun bernama “Tanah Datar”, Kabupaten Tanah Datar memiliki banyak bukit dan beberapa daerah terjal yang harus dilalui.
Setelah lama menghabiskan waktu di Istana Pagaruyung, kami akhirnya kembali ke Padang. Sesampainya kembali ke Padang, aku merasa ada yang kurang. Aku merasa bahwa aku belum terlalu lama untuk mengunjungi kampungku di Guguak. Akhirnya aku utarakan hal ini ke tanteku. Aku katakan kepadanya bahwa aku ingin kembali mengunjungi Guguak. Setelah mendiskusikan ini dengan tante dan pamanku, akhirnya disepakati bahwa aku akan pergi kembali ke kampungku keesokan paginya dengan menaiki minibus. Keesokan paginya, aku menaiki minibus dari Padang. Aku sempat singgah di Bukittinggi selama sehari untuk jalan-jalan sebelum akhirnya ke Payakumbuh dengan dijemput oleh sepupu dari ibu.

Setelah beristirahat selama semalam di Payakumbuh, aku kembali mengunjungi kampungku di Guguak VIII Koto bersama sepupu dari ibu. Disana aku bersilaturahmi dengan saudara-saudara jauhku. Mereka banyak bercerita tentang bagaimana sejarahnya keluarga ini. Salah satunya adalah tentang kakaknya kakekku yang tewas tertembak ketika berperang melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Indonesia di zaman perjuangan kemerdekaan dulu. Pada saat disana, aku juga mengunjungi makam nenek dan nenek buyutku yang terletak beberapa ratus meter di belakang rumah. Ketika mengunjungi makamnya mereka berdua, seketika aku teringat dengan kenangan-kenangan yang aku miliki ketika mereka berdua masih hidup.
“Dimanapun Khair berada, ingatlah bahwa Khair itu sukunya Pitopang dan kampung Khair adalah Guguak” tutur nenek buyutku ketika aku pulang kampung sebelumnya. Rindu? Pastinya. Tapi aku sadar yang hanya bisa aku berikan ke mereka sekarang adalah do’a. Sejak saat itu aku tidak pernah putus berdo'a kepada Allah Subhannahu Wa Ta'ala agar mereka berdua diampuni seluruh dosa-dosanya dan ditempatkan di surga yang paling tinggi derajatnya.

Begitulah…..

Aku sendiri tidak begitu ingat dengan apa yang aku lakukan setelah itu. Yang aku ingat hanyalah yang aku lakukan secara garis besar, aku kembali ke Payakumbuh sore harinya, keesokan harinya aku kembali ke Padang, dan sehari setelah aku sampai kembali di Padang, aku meninggalkan Sumatera Barat dan kembali ke Jakarta.



Daerah persawahan dimana dulunya kakek moyangku bertani

Sejujurnya, aku merasa bahwa aku masih meninggalkan sebagian diriku di kampungku. Itulah sebabnya aku tidak begitu fokus dengan apa yang kulakukan setelah aku mengunjungi kampungku.

Nyaris dua tahun sudah aku tidak kembali ke kampung halaman. Ketika aku mengetahui adanya organisasi bernama Ikatan Pelajar Minang Internasional atau biasa disingkat dengan IPMI, aku sangat antusias untuk ikut bergabung karena organisasi ini mengingatkanku dengan kampung halamanku dan juga tujuan dari organisasi ini adalah untuk memajukan Ranah Minang, tanah nenek moyangku. Walaupun awalnya aku sempat kurang yakin untuk diterima karena aku tinggal di Jakarta dan Bahasa Minangku sangat payah, aku memberanikan diri untuk mencoba bergabung dengan IPMI. Aku meminta bantuan temanku yang telah terlebih dahulu bergabung dengan IPMI. Setelah menunggu beberapa hari, aku dihubung oleh ketua IPMI lewat WhatsApp. Dia menyambutku dengan antusias dan kami berdua sempat membincangkan tentang berbagai hal. Dia juga menjelaskan bahwa ada anggota IPMI yang sebelum bergabung dengan IPMI sama sekali belum pernah ke Sumatera Barat. Juga tentang anggota-anggota IPMI yang ternyata cukup banyak bukan berasal dari Sumater Barat.

Sudah sebulan lebih setelah aku bergabung dengan IPMI. Sejak aku bergabung dengan IPMI, aku sudah cukup dekat dengan beberapa anggota lainnya karena aku cukup sering berkomunikasi dengan mereka.
Diantara percakapan-percakapanku dengan mereka, ada dua percakapan yang membuatku paling berkesan. Dua percakapan yang terjadi disaat yang berbeda.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Percakapan 1
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku: Jadi, aku sepertiga Minangkabau dan seperempat Sunda (aku menjelaskannya sedetail mungkin).
Dia: Huu… Kamu asalnya nggak jelas.
Aku: *Jleb*. Emangnya kamu gimana?
Dia: Kalau aku asli Minang. Murni.
Aku: *Geli*
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Honestly, I was amused.
Ketika dia mengatakan bahwa aku asalnya tidak jelas, aku mengerti bahwa itu hanyalah bercanda. I was a little startled, tapi disisi lain aku juga merasa geli ketika dia mengatakan itu.
Tetapi yang lebih menarik bagiku adalah ketika dia mengucapkan kata “murni.”
Aku jadi teringat dengan Harry Potter setelah dia mengucapkan kata itu. “Berdarah murni.” Ya, memang aku bukanlah berdarah murni, seperti inilah aku dilahirkan.
Aku juga merasa bahwa ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika dia mengatakan kepadaku bahwa dia adalah orang Minang yang asli dan murni. Ya, aku merasakannya dengan sangat jelas. Walaupun ketika mendengarnya aku merasa geli, jujur, aku juga salut dengan perkataannya. Aku juga sama sekali tidak merasakan adanya kesan meremehkan diriku ketika dia mengatakan itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Percakapan 2
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dia: Jadi kamu bapaknya atau ibunya yang orang Minang?
Aku: Dua-duanya. Ibuku setengah Minang tapinya karena bapaknya orang Sunda.
Dia: Oh… Berarti ibunya ibu kamu orang Minang ya?
Aku: Iya.
Dia: Oh… Berarti kamu asli orang Minang karena nenek kamu yang dari ibu yang orang Minang.
Aku: Hehe... Gitu ya.
Dia: Iya, karena masyarakat Minangkabau bersistem matrilineal. (Ujarnya bersemangat)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Memang, aku sudah lama tahu bahwa Etnis Minangkabau menganut sistem matrilineal. Aku bahkan pernah membuat case study yang membandingkan Etnis Minangkabau dengan etnis lainnya untuk tugas kuliahku. Dosenku takjub kepadaku karena aku berasal dari masyarakat yang menganut sistem matrilineal yang sekarang sudah banyak ditinggalkan oleh etnis-etnis lainnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Begitulah, dua percakapan ini masih sangat membekas di dalam ingatanku.

Sekarang, tidak kusangka. Baru sebulan lebih setelah aku bergabung dengan IPMI, aku sudah mengemban amanah yang besar sebagai Ketua Divisi Pendidikan. Hal yang sama sekali tidak pernah terbayang olehku sebelum bergabung. Tapi, aku siap untuk mengemban tugas ini karena ini adalah salah satu jalan untuk berkontribusi terhadap tanah nenek moyangku, Minangkabau. Tempat yang dulunya aku suka merasa terasing, tempat yang dulunya aku suka hanya karena makanannya.

But, that’s in the past. Sekarang aku sudah merasa tidak terasing lagi, justru aku ingin secepatnya bisa pulang kampung jika sudah kembali ke Indonesia lagi. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu liburanku di Sumatera Barat. Karena sekarang aku sudah merasa bahwa Ranah Minang adalah rumahku.

Sebuah petikan puisi dari seorang penyair termahsyur Amerika ini aku rasa sangat pas dalam mewakili apa yang aku rasakan.

“(Karena) tempat yang kita cintai adalah rumah - rumah yang kaki kita bisa pergi (meninggalkannya), tetapi tidak dengan hati kita.” – Oliver Wendell Holmes, Sr.


Al Ain, Uni Emirat Arab – 11 November 2017




About the author

Admin
Selamat membaca !

0 komentar:

Copyright © 2013 Ikatan Pelajar Minang Internasional and Blogger Themes.