Ranting tak Berdaun

Berkali-kali ku rangkai alasan untuk tertarik, tangkai-tangkai cokelat itu semakin tampak antik. Meski tak punya bunga ataupun secerah objek lain, tetap saja pohon-pohon berguguran itu selalu menyita perhatianku. Setiap menapak di jalan berbeda, rupa pohon yang sama memancarkan kecantikan tak menjemukan. Daun rontok dan batang keringnya tak patut dijadikan alibi kenapa mataku selalu terpaku pada mereka.
            Semerbak harum melati tak pernah berhasil menyeretku berpikir sedalam ini. Mawar dengan kesempurnaan wibawa durinya juga baru bisa menempati urutan kedua sebagai filosofi favoritku. Ranting tak bedaun. Tungkai-tungkai pohon gundul berdiri kokoh meski ditinggal dedaunan hijau. Tak satupun yang ia salahkan, entah hujaman hujan yang memperlemah genggaman atau waktu yang menggiring musim gugur, si dalang dari kepergian daun-daun. Tetap mempesona di tengah ketidakpunyaan, daya pikat yang tak dapat dimiliki oleh siapa yang berpunya. Mungkin itu boleh dijadikan landasan kesukaanku. Aku juga yakin tak hanya aku yang pernah jatuh hati dengan alasan sesederhana ini.
     Dia tetap dan selalu cantik, di kelilingi siapapun atau tumbuh dimana pun. Tanah tandus tetap menguatkan karakter coklat manisnya, ditemani oleh bunga-bunga berwarna terang juga tak memudarkan pesona klasiknya. Daun yang akan pergi juga tak sembarang meninggalkan, ia warnai tubuhnya dengan warna hijau-merah pertanda perpisahan akan semakin dekat. Ia juga tak jahat, tak serta-merta rontok hingga meluapkan kesepian si pohon. Demi menjaga perasaan si batang tempat ia bergantung, ia jatuh diam-diam dalam sunyi.
 Dia masih disana, tak berpindah ataupun mencoba mati untuk menyusul daun. Setia bersama perpindahan masa yang akan membawanya pada musim semi, si baik hati yang akan mempertemukan mereka untuk saling melepas haru dan rindu agar kembali menyemaikan kolaborasi keteduhan. 
Setongkat ranting, bermacam makna tersirat padanya. Tak perlu bermulut agar orang tahu seberapa tegarnya ia, tetapi tak semua orang pula yang dapat merasakan kekuatan hatinya. Dia tetap saja berdiam dan bertahan, percaya pada ketidaksia-siaan melapangkan hati. Senantiasa mengepakkan ketabahan, agar sekujur dirinya sekata untuk menerima dan bersiap menghadapi resiko kehidupan.
Hati memang tak pernah mampu menghentikan detik, bahkan mengembalikan momen-momen terlewat. Pemilik hati yang bijak setidaknya dapat mengendalikan segenap sisa harapan di dada. Ranting tak berdaun telah membuktikannya. Ditinggal daun pun ia tak bersedih, ia bahkan tetap saling berdamai dan semakin akrab dengan musim gugur. Orang-orang selalu menanti dan menikmati persahabatan ranggasan pohon dengan terpaan angin, karena secantik apapun salju dikata takkan pernah memukaukan pohon dengan segala kegundulannya.
Lantas mengapa kita tak dapat meniru si batang tak berdaun? Ia merasakan sepi, penatnya penantian, hingga harus melawan perih perpisahan ditambah dengan kuatnya angin berhembus. Tetap bertahan dengan satu itikad, harus bertemu dengan daun meski harus merasakan dinginnya salju menghinggapi luka kesepian. Kita tak harus berdiri kedinginan sepanjang malam menunggu takdir, mengapa tak sabar menanti? Menjemput mimpi terwujud pun juga masih bisa diselingi beragam cara menyenangkan, mengapa kita masih enggan menyambung asa yang merenggang?
Terima kasih batang tak berdaun, kau berhasil mengejutkanku dari kelalaian penyebab kufur nikmat ini. 


Nadhira Asiyah Arrin 




About the author

Admin
Selamat membaca !

1 komentar:

Copyright © 2013 Ikatan Pelajar Minang Internasional and Blogger Themes.